ARTIKEL & JURNAL

MASALAH KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA

Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat dapat dilihat dari dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai salah satu modal produksi atau prakondisi yang dibutuhkan seseorang sehingga dapat beraktivitas yang produktif.

Salah satu upaya mewujudkannya dalam industri dikembangkan konsep kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Dimensi konsumsi menjelaskan manfaat sehat sebagai kondisi yang dibutuhkan setiap manusia untuk dinikmati sehingga perlu disyukuri. Dimensi ini melahirkan pemahaman upaya manusia untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan agar terhindar dari penyakit dan masalah kesehatan. Usaha-usaha preventif dan promotif seperti gizi, sanitasi, konseling genetika, asuransi, estetika termasuk di dalamnya.

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni untuk mencegah penyakit, memperpanjang hidup, mempromosikan kesehatan dan efisiensi dengan menggerakkan potensi seluruh masyarakat. Konsep kesehatan masyarakat berkaitan dengan perubahan perilaku sehat akan lebih terbentuk dan bertahan lama bila dilandasi kesadaran sendiri (internalisasi) sehingga konsep upaya sehat dari, oleh dan untuk masyarakat sangat tepat diterapkan.

Pemerintah Indonesia sudah mengembangkan konsep Desa Siaga yang menggunakan pendekatan pengenalan dan pemecahan masalah kesehatan dari, oleh dan untuk masyarakat sendiri. Peranan petugas kesehatan sebagai stimulator melalui promosi kesehatan dilakukan dengan memberikan pelatihan penerapan Desa Siaga. Kegiatan diwujudkan melalui rangkaian pelatihan mengidentifikasi masalah kesehatan dengan mengenalkan masalah kesehatan dan penyakit yang banyak terjadi dalam lingkungan mereka dilanjutkan survey mawas diri (SMD) dan aplikasi upaya mengatasi yang disepakati masyarakat berupa musyawarah masyarakat desa (MMD). Harapan pemerintah agar upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat lebih cepat dan lebih awet karena masyarakat mampu mandiri untuk sehat.

Tanpa pemahaman terhadap penyakit dan masalaah kesehatan masyarakat oleh petugas kesehatan maka tidak akan memiliki dasar pemahaman yang kuat. Implikasinya akan terjadi     semakin jauh kesenjangan pemahaman konsep penyakit dan masalah kesehatan antara petugas kesehatan dan masyarakat sehingga gagal dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Masalah Kesehatan Masyarakat

Untuk memahami masalah kesehatan yang sering ditemukan di Indonesia perlu dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain masalah perilaku kesehatan, lingkungan, genetik dan pelayanan kesehatan yang akan menimbulkan berbagai masalah lanjutan seperti masalah kesehatan ibu dan anak, masalah gizi dan penyakit-penyakit baik menular maupun tidak menular. Masalah kesehatan tersebut dapat terjadi pada masyarakat secara umum atau komunitas tertentu seperti kelompok rawan (bayi, balita dan ibu), kelompok lanjut usia dan kelompok pekerja.

  1. Masalah Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan bila mengacu pada penelitian Hendrik L. Blum di Amerika Serikat  memiliki urutan kedua faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat setelah faktor lingkungan. Di Indonesia diduga faktor perilaku justru menjadi faktor utama masalah kesehatn sebagai akibat masih rendah pengetahuan kesehatan dan faktor kemiskinan. Kondisi tersebut mungkin terkait tingkat pendidikan yang mempengaruhi pengetahuan masyarakat untuk berperilaku sehat. Terbentuknya perilaku diawali respon terhadap stimulus pada domain kognitif berupa pengetahuan terhadap obyek tersebut, selanjutnya menimbulkan respon batin (afektif) yaitu sikap terhadap obyek tersebut. Respon tindakan (perilaku) dapat timbul setelah respon pengetahuan dan sikap yang searah (sinkron) atau langsung tanpa didasari kedua respon di atas. Jenis perilaku ini cenderung tidak bertahan lama karena terbentuk tanda pemahaman manfaat berperilaku tertentu.

Proses terbentuknya sebuah perilaku yang diawali pengetahuan membutuhkan sumber pengetahuan dan diperoleh dari pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan merupakan kegiatan atau usaha menyampaikan pesan kesehatan kepada sasaran sehingga pengetahuan sasaran terhadap sesuatu masalah meningkat dengan harapan sasaran dapat berperilaku sehat.

Sikap setuju terhadap suatu perilaku sehat dapat terbentuk bila pengetahuan yang mendasari perilaku diperkuat dengan bukti manfaat karena perilaku seseorang dilandasi motif. Bila seseorang dapat menemukan manfaat dari berperilaku sehat yang diharapkan oleh petugas kesehatan maka terbentuklah sikap yang mendukung.

Perilaku sendiri menurut Lawrence Green dilatarbelakangi 3 faktor pokok yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pendukung (enabling factors) dan faktor penguat (reinforcing factors). Oleh sebab tersebut maka perubahan perilaku melalui pendidikan kesehatan perlu melakukan intervensi terhadap ketiga faktor tersebut di atas sehingga masyarakat memiliki perilaku yang sesuai nilai-nilai kesehatan (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

  1. Masalah Kesehatan lingkungan

Kesehatan lingkungan merupakan keadaan lingkungan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terbentuknya derajat kesehatan masyarakat yang optimum pula. Masalah kesehatan lingkungan meliputi penyehatan lingkungan pemukiman, penyediaan air bersih, pengelolaan limbah dan sampah serta pengelolaan tempat-tempat umum dan pengolahan makanan.

2. Penyehatan lingkungan pemukiman

Lingkungan pemukiman secara khusus adalah rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Pertumbuhan penduduk yang tidak diikuti pertambahan luas tanah cenderung menimbulkan masalah kepadatan populasi dan lingkungan tempat tinggal yang menyebabkan berbagai penyakit serta masalah kesehatan. Rumah sehat sebagai prasyarat berperilaku sehat memiliki kriteria yang sulit dapat dipenuhi akibat kepadatan populasi yang tidak diimbangi ketersediaan lahan perumahan. Kriteria tersebut antara lain luas bangunan rumah minimal 2,5 m2 per penghuni, fasilitas air bersih yang cukup, pembuangan tinja, pembuangan sampah dan limbah, fasilitas dapur dan  ruang berkumpul keluarga serta gudang dan kandang ternak untuk rumah pedesaan. Tidak terpenuhi syarat rumah sehat dapat menimbulkan masalah kesehatan atau penyakit baik fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi produktivitas keluarga dan pada akhirnya mengarah pada kemiskinan dan masalah sosial.

3. Penyediaan air bersih

Kebutuhan air bersih terutama meliputi air minum, mandi, memasak dan mencuci. Air minum yang dikonsumsi harus memenuhi syarat minimal sebagai air yang dikonsumsi. Syarat air minum yang sehat antara lain syarat fisik, syarat bakteriologis dan syarat kimia. Air minum sehat memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, suhu di bawah suhu udara sekitar (syarat fisik), bebas dari bakteri patogen (syarat bakteriologis) dan mengandung zat-zat tertentu dalam jumlah yang dipersyaratkan (syarat kimia). Di Indonesia sumber-sumber air minum dapat dari air hujan, air sungai, air danau, mata air, air sumur dangkal dan air sumur dalam. Sumber-sumber air tersebut memiliki karakteristik masing-masing yang membutuhkan pengolahan sederhana sampai modern agar layak diminum.

Tidak terpenuhi kebutuhan air bersih dapat menimbulkan masalah kesehatan atau penyakit seperti infeksi kulit, infeksi usus, penyakit gigi dan mulut dan lain-lain.

4.  Pengelolaan limbah dan sampah

Limbah merupakan hasil buangan baik manusia (kotoran), rumah tangga, industri atau tempat-tempat umum lainnya. Sampah merupakan bahan atau benda padat yang dibuang karena sudah tidak digunakan dalam kegiatan manusia. Pengelolaan limbah dan sampah  yang tidak tepat akan menimbulkan polusi terhadap kesehatan lingkungan.

Pengolahan kotoran manusia membutuhkan tempat yang memenuhi syarat agar tidak menimbulkan kontaminasi terhadap air dan tanah serta menimbulkan polusi bau dan mengganggu estetika. Tempat pembuangan dan pengolahan limbah kotoran manusia berupa jamban dan septic tank harus memenuhi syarat kesehatan karena beberapa penyakit disebarkan melalui perantaraan kotoran.

Pengelolaan sampah meliputi sampah organik, anorganik serta bahan berbahaya, memiliki 2 tahap pengelolaan yaitu pengumpulan dan pengangkutan sampah serta pemusnahan dan pengolahan sampah.

Pengelolaan limbah ditujukan untuk menghindarkan pencemaran air dan tanah sehingga pengolahan limbah harus menghasilkan limbah yang tidah berbahaya. Syarat pengolahan limbah cair meliputi syarat fisik, bakteriologis dan kimia. Pengolahan air limbah dilakukan secara sederhana dan modern. Secara sederhana pengolahan air limbah dapat dilakukan dengan pengenceran (dilusi), kolam oksidasi dan irigasi, sedangkan secara modern menggunakan Sarana atau Instalasi Pengolahan Air Limbah (SPAL/IPAL).

  1. Pengelolaan tempat-tempat umum dan pengolahan makanan

Pengelolaan tempat-tempat umum meliputi tempat ibadah, sekolah, pasar dan lain-lain sedangkan pengolahan makanan meliputi tempat pengolahan makanan (pabrik atau industri makanan) dan tempat penjualan makanan (toko, warung makan, kantin, restoran, cafe, dll). Kegiatan berupa pemeriksaan syarat bangunan, ketersediaan air bersih serta pengolahan limbah dan sampah.

2.  Masalah Pelayanan Kesehatan

Pelayanan kesehatan yang bermutu akan menghasilkan derajat kesehatan optimal. Tercapainya pelayanan kesehatan yang sesuai standar membutuhkan syarat ketersediaan sumber daya dan prosedur pelayanan.

Ketersediaan sumber daya yang akan menunjang perilaku sehat masyarakat untuk memanfaat pelayanan kesehatan baik negeri atau swasta membutuhkan prasyarat sumber daya manusia (petugas kesehatan yang profesional), sumber daya sarana dan prasarana (bangunan dan sarana pendukung) seta sumber daya dana (pembiayaan kesehatan).

3.  Petugas kesehatan yang profesional

Pelaksana pelayanan kesehatan meliputi tenaga medis, paramedis keperawatan, paramedis non keperawatan dan non medis (administrasi). Profesionalitas tenaga kesehatan yang memberi pelayanan kesehatan ditunjukkan dengan kompetensi dan taat prosedur.

Saat ini masyarakat banyak menerima pelayanan kesehatan di bawah standar akibat kedua syarat di atas tidak dipenuhi. Keterbatasan ketenagaan di Indonesia yang terjadi karena kurangnya tenaga sesuai kompetensi atau tidak terdistribusi secara merata melahirkan petugas kesehatan yang memberikan pelayanan tidak sesuai kompetensinya. Kurangnya pengetahuan dan motif ekonomi sering menjadikan standar pelayanan belum dikerjakan secara maksimal. Masyarakat cenderung menerima kondisi tersebut karena ketidaktahuan dan keterpaksaan. Walaupun pemerintah telah banyak melakukan perbaikan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia baik melalui peraturan standar kompetensi tenaga kesehatan maupun program peningkatan kompetensi dan pemerataan distribusi tenaga kesehatan tetapi belum seluruh petugas kesehatan mendukung. Hal tersebut terkait perilaku sehat petugas kesehatan yang masih banyak menyimpang dari tujuan awal keberadaannya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pelayanan kuratif masih memimpin sedangkan aspek preventif dan promotif dalam pelayanan kesehatan belum dominan. Perilaku sehat masyarakat pun mengikuti saat paradigma sehat dikalahkan oleh perilaku sakit, yaitu memanfaatkan pelayanan kesehatan hanya pada saat sakit.

  1. Sarana bangunan dan pendukung

Keterbatasan sarana dan prasarana pendukung pelayanan kesehatan saat ini diatasi dengan konsep Desa Siaga yaitu konsep memandirikan masyarakat untuk sehat. Sayangnya kondisi tersebut tidak didukung sepenuhnya oleh masyarakat karena lebih dominannya perilaku sakit. Pemerintah sendiri selain dana APBN dan APBD, melalui program Bantuan Operasional Kegiatan (BOK) Puskesmas dan program pengembangan sarana pelayanan kesehatan rujukan telah banyak meningkatkan mutu sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di Indonesia.

2. Pembiayaan kesehatan

Faktor pembiayaan seringkali menjadi penghambat masyarakat mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Faktor yang merupakan faktor pendukung (enabling factors) masyarakat untuk berperilaku sehat telah dilakukan di Indonesia melalui asuransi kesehatan maupun dana pendamping. Sebut saja asuransi kesehatan untuk pegawai negeri sipil (PT. Askes), polisi dan tentara (PT. Asabri), pekerja sektor industri (PT. Jamsostek), masyarakat miskin (Jamkesmas Program Keluarga Harapan), masyarakat tidak mampu (Jamkesda) bahkan masyarakat umum (Jampersal dan asuransi perorangan). Namun tetap saja masalah pembiayaan kesehatan menjadi kendala dalam mencapai pelayanan kesehatan yang bermutu terkait kesadaran masyarakat berperilaku sehat. Perilaku sakit masih dominan sehingga upaya kuratif yang membutuhkan biaya besar cenderung menyebabkan dana tidak tercukupi atau habis di tengah jalan. Karena itu diperlukan perubahan paradigma masyarakat menjadi Paradigma Sehat melalui Pendidikan Kesehatan oleh petugas kesehatan secara terus menerus.

3. Masalah Genetik

Beberapa masalah kesehatan dan penyakit yang disebabkan oleh faktor genetik tidak hanya penyakit keturunan seperti hemophilia, Diabetes Mellitus, infertilitas dan lain-lain tetapi juga masalah sosial seperti keretakan rumah tangga sampai perceraian, kemiskinan dan kejahatan. Masalah kesehatan dan penyakit yang timbul akibat faktor genetik lebih banyak disebabkan kurang paham terhadap penyebab genetik, disamping sikap penolakan karena faktor kepercayaan. Agar masyarakat dapat berperilaku genetik yang sehat diperlukan intervensi pendidikan kesehatan disertai upaya pendekatan kepada pengambil keputusan (tokoh agama, tokoh masyarakat dan penguasa wilayah). Intervensi berupa pendidikan kesehatan melalui konseling genetik, penyuluhan usia reproduksi, persiapan pranikah dan pentingnya pemeriksaan genetik dapat mengurangi resiko munculnya penyakit atau masalah kesehatan pada keturunannya.

SIMPULAN

Kesehatan masyarakat memiliki tujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan menggerakkan seluruh potensi masyarakat. Dapat diartikan bahwa perilaku sehat masyarakat harus ditingkatkan dan dipelihara oleh petugas kesehatan. Kondisi masalah kesehatan di Indonesia sebagian besar terkait perilaku masyarakat dan petugas kesehatan yang belum sepenuhnya mendukung menuju perilaku hidup sehat. Upaya merubah perilaku masyarakat menjadi perilaku sehat dapat dilakukan dengan pendidikan kesehatan atau secara khusus promosi kesehatan. Atas dasar keadaan tersebut maka wajib bagi petugas kesehatan memiliki kompetensi melakukan promosi kesehatan.

Sekilas Info Tentang Swa Medikasi/Self Medication

Kalau kita sebagai masyarakat biasa dan masih awam, terkadang upaya pengobatan diri kita sering kita serahkan langsung ke praktisi kesehatan terkait, seperti dokter. Dimana dokter akan menganalisa dan memberikan rekomendasi obat yg harus di minum untuk menunjang terapinya. Namun, tidakkah kita membayangkan, berpakah biaya yg akan kita keluarkan, dgn asumsi hitungan : 1. Biaya konsultasi dokter 2. Biaya obat itu sendiri (Pasien rawat jalan).

Konsep sehat semacam ini, sudah banyak ditinggalkan atau sdh berkurang frekuensinya. Konsep terbaru adalah swamedikasi atau Upaya Pengobatan Diri Sendiri (UPDS). Hal ini memberikan banyak keuntungan, diantaranya : Secara jelas dan meyakinkan, bahwa terapi sendiri akan mengurangi biaya konsultasi kita ke dokter

Swamedikasi dapat didefinisikan sbg pengobatan mandiri tanpa melalui dokter ketika sedang sakit oleh masyarakat/awam. Biasanya swamedikasi dilakukan untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan mulai dari batuk pilekdemam, sakit kepala, sakit maag, gatal – gatal sampai iritasi ringan pada mata.
Sedangkan ada juga konsep modern swamedikasi yg diartikan sbg upaya pencegahan terhadap penyakit, dengan mengkonsumsi vitamin dan suplemen makanan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berkembangnya swamedikasi dilatar belakangi oleh harga obat yang tinggi ditambah dengan biaya pelayanan kesehatan yang makin mahal.

Selain itu, sebagian masyarakat sudah mulai memiliki paradigma baru dalam dunia pengobatan, dengan beralih dari kuratif rehabilitatif (pengobatan) ke arah preventif promotif(pencegahan).

Adapun tips untuk melakukan kegiatan Swamedikasi terhadap diri sendiri maupun orang-orang sakit disekitar kita, diantaranya :

a. Kita sbg pasien harus dapat membaca dan mencermati secara teliti informasi yang tertera pada kemasan atau brosur yang disiapkan di dalam kemasan seperti komposisis zat aktif, indikasi, kontra indikasi, efek samping, interaksi obat, dosis dan cara penggunaan.

b. Memilih obat dengan kandungan zat aktif sesuai keperluan, misalnya jika gejala penyakitnya adalah pusing.
c. Penggunaan obat swamedikasi hanya untuk penggunaan jangka pendek saja (seminggu), karena jika gejala menetap atau bahkan makin memburuk maka pasien harus segera ke dokter.

d. Perhatikan aturan pemakaian obat, seperti cara penggunaan, dosis, frekuensi pemakaian, obat digunakan sebelum atau sesudah makan dan sebagainya.

e. Penting juga untuk memperhatikan masalah kontraindikasi dan atau makanan minuman atau obat lain yang harus dihindari ketika mengkonsumsi obat tersebut, bagaimana penyimpanannya.

Untuk lebih mengarahkan ketepatan pemilihan obat pada saat melakukan pelayanan swamedikasi, Anda berhak mendapat beberapa informasi, dlm bentuk pertanyaan oleh petugas atau tenaga kefarmasian di Apotek seperti Asisten Apoteker, maupun Apoteker, dengan arahan pertanyaan yg mendukung terapi Swamedikasi Anda. Beberapa pertanyaannya adalah :

a. W : who (untuk siapa obat tersebut). Petugas apotek dapat dan berhak menanyakan, untuk siapa obat ini dikonsumsikan nantinya. Tenaga di apotek, akan membantu Anda dalam memonitor efek dari penggunaan obat dgn parameter siapa yg menggunakannya, apakah bayi, balita, anak-anak, dewasa ataukah ibu hamil dan menyusui misalnya.

b. W : what symptoms (gejala apa yang dirasakan). Gejala ini juga penting untuk ditanyakan oleh petugas apotek, karena gejala ini masih dapat diterapi dan disembuhkan, ataukah penyakit sdh menjangkit lebih jauh thd pasien tadi.

c. H : how long (sudah berapa lama gejala tersebut berlangsung). Faktor lamanya waktu gejala menentukkan, apakah konsep swamedikasi dpt dijalankan atau tidak. Bila memang sdh kronis serta akut, proses yg dapat ditempuh adalah memeriksakan penyakit ini ke tenaga medis, yg mendiagnosa, samapai mana tingkat progresifitas penyakit yg diderita pasien tsb.

d. A : action (tindakan apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi gejala tersebut). Jika beberapa hal diatas sdh dianalisa, maka petugas di apotek akan merekomendasikan terapi swamedikasi Anda.

e. M : medicine (obat-obat apa saja yang sedang digunakan oleh pasien). Tidak kalah pentingnya, dgn menanyakan obat apa saja yg sdh Anda gunakan, petugas di apotek akan membandingkan, apakah ada efek alergi jika diberikan dgn sediaan baru, tingkat resistensi diri obat thd penyakit yg Anda derita dan efek samping lain yg mungkin terjadi.

Namun, ada beberapa hal yang harus dicermati oleh praktisi swa medikasi :
  • Tidak mengenali keseriusan gangguan. Keseriusan keluhan-keluhan dapat dinilai secara salah atau mungkin tidak dikenali, sehingga pengobatan sendiri bisa dilakukan terlalu lama. Keluhan-keluhan itu dapat semakin parah, sehingga  dokter  perlu menggunakan obat-obat yang keras atau bahkan karena tidak ditanggapi secara serius, dapat datang terlambat pada dokter.
  1. Penggunaan kurang tepat, resiko lain adalah bahwa obat bisa digunakan secara salah, terlalu lama atau dalam takaran yang terlalu besar. Contoh2 terkenal adalah tetes2 hidung dan obat sembelit (laksansia), yang bila digunakan terlampau/lama, malah dapat memperburuk keluhan. Begitupula dengan obat-obat alamiah, yang mencakup ramuan jamu dan tumbuhan yang dikeringkan, seringkali dianggap lebih baik dan lebih aman. Ini adalah suatu kesalahpahaman, karena juga jamu kadangkala dapat mengandung zat aktif dengan khasiat keras yang dapat menimbulkan efek samping berbahaya.

Guna mengatasi resiko tersebut, maka perlu sekali untuk dapat mengenali gangguan – gangguan. Selain itu bacalah aturan pakai atau peringatan yang selalu diikutsertakan secara seksama dan ditaati dengan baik.

(sumber : http://farmasiku.com/index.php?target=pages&page_id=Bagaimana_Menggunakan_Obat)

Mengenai bahaya dan peringatan tentang swa medikasi bisa dibaca lebih detail di :http://www.boloji.com/health/articles/01029.htm
 Sir William Osler (1849-1919)  “Salah satu tugas pertama dokter adalah untuk mendidik massa kapan tidak minum obat”

 

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI DENGAN PERILAKU REMAJA PUTRI DALAM PERAWATAN KESEHATAN REPRODUKSI DI SMK NU KABUPATEN LAMONGAN

Rahmawati Azizah1, Ratna Dewi 2

ABSTRAK: Kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan di mana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman. Hasil survey awal menunjukkan bahwa masih banyak remaja putri belum bisa melakukan perawatan kesehatan reproduksi dengan benar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi dengan perilaku perawatan kesehatan reproduksi remaja putri di SMK NU Kabupaten Lamongan. Penelitian ini menggunakan desain Analitik Korelasional dengan pendekatan Crossectional. Populasi pada penelitian yaitu seluruh siswi kelas 3 SMK NU Kabupaten Lamongan, bulan April sampai Mei 2012, sebanyak 110 siswi, dan didapatkan sampel sebanyak 89 siswi, dengan tehnik  Proputionate Statified Random Sampling. Variabel independen perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi dan variabel dependen motivasi remaja purti dalam perawatan kesehatan reproduksi. Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup berbentuk skala likert, selanjutnya dilakukan editing, coding, scoring, tabulating. Kemudian analisa data dengan cara: uji Rank Spearmen. Hasil penelitian menunjukan sebagian besar remaja putri memiliki motivasi tinggi (50,6%), hampir sebagian remaja putri memiliki perilaku kurang (50,6%) dalam perawatan kesehatan reproduksi. Hasi uji Rank Spearman ρ= 0,044 rs= 0,214 dimana p<0,05, maka berarti Hı diterimahsehingga hipotesis penelitian diterimah, artinnya terdapat hubungan motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi.Rujukan penelitian ini diharapkan petugas kesehatan dapat memberikan untuk memberikan penyuluhan tentang akibat bila tidak merawat kesehatan reproduksi dengan benar.

 Kata kunci: Motivasi, Perilaku, Kesehatan Reproduksi, Remaja Putri.

1 Mahasiswa Akademi Keperawatan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

 

 2 Staf Pengajar Akademi Keperawatan Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

 PENDAHULUAN

 

Kesehatan reproduksi pada remaja sering dikonotasikan sebagai pendidikan seks di mana sebagian besar masyarakat di Indonesia masih mentabuhkan hal ini, pada lembaga pendidikan formal setingkat sekolah menengah yang masih ragu untuk melaksanakan penyuluhan kesehatan reproduksi bagi siswinya.  Masa remaja adalah fase pertumbuhan dan perkembangan saat individu mencapai usia 10-19 tahun. Rentang waktu ini terjadi pertumbuhan fisik yang cepat, dan termasuk pertumbuhan serta kematangan dari fungsi organ reproduksi.

Seiring dengan pertumbuhan fisik, remaja juga mengalami perubahan jiwa. Remaja menjadi individu yang mudah menangis, mudah cemas, tetapi juga mudah tertawa. Perubahan emosi menjadikan remaja sebagai individu yang mudah marah dan mudah bereaksi terhadap rangsangan. Remaja mulai senang mengkritik, berkhayal dan ingin mengetahui hal yang baru, bila tidak didasari dengan pengetahuan yang cukup, maka remaja akan mencoba hal yang baru berhubungan dengan kesehatan reproduksi dan memberikan dampak yang akan menghancurkan masa depan remaja dan keluarga (Dep Kes, 2010).

Kurangnya perilaku merawat kesehatan reproduksi dapat menyebabkan penyakit keputihan. Wanita di Indonesia yang mengalami keputihan sangat besar, 75% wanita di Indonesia pasti pernah mengalami keputihan minimal satu kali dalam kehidupannya. Kondisi ini dikarenakan cuaca di Indonesia yang lembab menjadi salah satu penyebab banyaknya wanita Indonesia mengalami keputihan (Elitstyawaty, 2006). Berdasarkan survey awal pada tanggal 1 Desember 2011 terdapat 10 siswi dan didapatkan 7 siswi (70%) belum melakukan perawatan kesehatan reproduksi dengan benar dan 3 siswi (30%) sudah bisa melakukan perawatan kesehatan reproduksi dengan benar. Dari data tersebut, menunjukkan bahwa masih ada remaja putri belum merawat kesehatan reproduksi dengan benar.

Banyak faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan organ reproduksi  di antaranya: faktor internal: pendidikan, konsep diri, motivasi dan faktor eksternal: lingkungan, sosial budaya, ekonomi.

Dampak yang akan terjadi bila remaja putri tidak merawat kesehehatan reproduksi, maka remaja putri akan beresiko mengalami keputihanm yang berlebihan,gatal-gatal didaerah vaginah, nyeri pada pada daerah vaginadan pnyakit menular seksualserta infeksi saluran reproduksi.

Upaya yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan adalah memberikan penyuluhan, edukasi dan informasi tentang pentingnya pemeliharaan daerah kewanitaan terutama pada remaja putri di SMK NU Kabupaten Lamongan, dengan melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dalam hal ini peran keluarga juga berpengaruh sebagai motivasi kepada anak-anak mereka dalam melakukan perawatan kesehatan reproduksi.

Dari latar belakang di atas banyak faktor yang mempengaruhi perawatan kesehatan reproduksi pada remaja putri, maka peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang “Hubungan antara motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan”.

BAHAN DAN CARA PENELITIAN

                 Penelitian ini merupakan penelitian analitik, yang dilakukan pada bulan Desember 2012 sampai Juli 2012, adapun pengambilan data didapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner pada bulan April sampai Mei 2012 di SMK NU Kabupaten Lamongan.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswi kelas 3 di SMK NU Kabupaten Lamongan, bulan April sampai Mei 2011, sebanyak 110 siswi, dan didapatkan sampel sebanyak 89 siswi, dengan tehnik Propotionate Stratified Random Sampling, dengan mengambil responden secara acak yang telah memenuhi kriteria inklusi. Variabel independen perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi, dan variabel dependen motivasi remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi. Pengempulan data menggunakan kuesioner tertutup berbentuk skala likert, dengan beberapa kategori untuk variabel perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi diklasifikasikan menjadi 2 yaitu: kode 1 bila perilaku ≤ mean, kode 2 bila perilaku baik > mean, untuk vaeriabel motivasi remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi diklasifikasikan menjadi 2 yaitu: kode 1 bila motivasi rendah  ≤  mean, kode 2 bila motivasi tinggi > mean.

Pengolahan data dan analisis data dengan editing, coding, scoring, tabulating dan dianalisis menggunakan menggunakan uji korelasi Rank Spearman dengan tingkat kemaknaan α=0,05, artinya bila nilai p<0,05, H1 diterima, berarti terdapat hubungan antara motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan.

HASIL PENELITIAN

  1. 1.             Data Umum

1)             Umur

Tabel 1  Distribusi Umur Remaja Putri di SMK NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012.

No Umur Frekuensi (n) Prosentase (%)
12

3

 

< 15 Tahun16-18      Tahun

>18Tahun

1063

16

11,270,8

18,0

Total 89 100

Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri (70,8%) berusia 16-18 tahun yaitu 63 siswi, dan sebagian kecil (11,2) berusia <15 tahun yaitu 10 siswi.

2)             Urutan Anak

Tabel 2 Distribusi Urutan Anak Dalam Keluarga Pada Remaja putri di SMK   NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012.

No Anak yang ke- Frekuensi (n) Prosentase (%)
12

3

 

1-34-5

>6

6220

6

6922,5

6,7

Total 89 100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar remaja putri (69,7%) merupakan anak  ke 1-3 yaitu 62 siswi, dan sebagian kecil remaja putri (6,7%) merupakan anak ke >6 yaitu 6 siswi.

3)             Pendidikan Orang Tua

Tabel 3 Distribusi Pendidikan Orang Tua di SMK NU Kabupaten Lamongan   Tahun 2012.

No Anak yang ke- Frekuensi (n) Prosentase (%)
12

3

4

 

SDSMP

SMA/SMK

Perguruan Tinggi

1831

28

11

20,234,8

31,5

12,4

Total 89 100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa hampir sebagian (34,8%) orang tua remaja putri berpendidikan SMP yaitu 31 orang, dan sebagian kecil (12,4%) orang tua remaja putri berpendidikan perguruan tinggi yaitu 11 orang.

4)             Pekerjaan Orang Tua

Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua di SMK NU          Kabupaten Lamongan Tahun 2012.

No Anak yang ke- Frekuensi (n) Prosentase (%)
12

3

4

 

TaniPNS

Swasta

Buruh Tani

4012

34

3

44,913,5

38,2

3,4

Total 89 100

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa hampir sebagian (44,9%)  orang tua remaja putri orang tua remaja putri memiliki pekerjaan tani yaitu 40 orang, dan sebagian kecil (3,4%) orang tua remaj putri orang tua remaja putri memiliki pekerjaan buruh tani yaitu 3 orang.

5)             Informasi yang didapatkan Tentang Perawatan Kesehatan Reproduksi.

Tabel 5 Distribusi Informasi yang didapatkan Tentang Perawatan Kesehatan Reproduksi Oleh remaja Putri di SMK NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012.

No Informasi yg didapat Frekuensi (n) Prosentase (%)
12

3

4

 

Petugas KesehatanMedia Massa

Keluarga

Teman

2925

24

11

32,628,1

27,0

12,4

Total 89 100

Berdasarkan tabel 4.5 dapat diketahui bahwa hampir sebagian (32,6%) remaja putri mendapatkan informasi dari petugas kesehatan.

  1. 2.             Data Khusus

1)             Motivasi Remaja Putri dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi.

Tabel  6 Distribusi Motivasi Remaja Putri Dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012.

No    Motivasi        Frekuensi (n)       Prosentase (%)
 1  Rendah                   44                        49,42 Tinggi                      45                         50,6

 

        Total                     89                         100

Tabel 4.6 menunjukkan bahwa sebagian besar (50,6%) remaja putri memiliki motivasi tinggi dalam perawatan kesehatan reproduksi yaitu 45 siswi.

2)              Perilaku Remaja Putri Dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi.

Tabel 7  Distribusi Perilaku Remaja Putri Dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012

No     Perilaku   Frekuensi          Prosentase (%)
 1      Kurang         44                              49,42      Baik             45                               50,6

 

          Total           89                               100

Berdasarkan tabel 4.7 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri (50,6%) remaja putri memiliki perilaku baik dalam perawatan kesehatan reproduksi yaitu 44 siswi, dan hampir sebagian (49,4%) remaja putri memiliki perilaku baik dalam perawatan kesehatan reproduksi  yaitu 44 remaja putri.

3)             Hubungan  Motivasi dengan Perilaku Perawatan Kesehatan Reproduksi.

Tabel 8 Tabel Silang Antara Motivasi dengan Perilaku Perawatan Kesehatan Reproduksi Remaja Putri di SMK NU Kabupaten Lamongan Tahun 2012

Motivasi Perilaku Total
 Kurang           Baik
  n             %                      n               %                 n                  %
Rendah            27           61,4                 17              38,6              44               100
Tinggi              18           40,0                 27              60,0              45               100
n=89 ρ=0,044 rs= 0,214

Tabel 4.8 menunjukkan bahwa sebagian besar (61,4%) remaja putri yang memiliki motivasi rendah mempunyai perilaku kurang yaitu 27 siswi dan sebagian besar (60,0%), remaja putri yang memiliki motivasi tinggi mempunyai perilaku baik yaitu 27 siswi.

Hasil uji Spearman didapatkan nilai ρ=0,044 rs= 0,214 dimana p<0,05, maka Hı diterima, artinya terdapat hubungan antara motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan.

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. 1.     Motivasi Remaja Putri dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi

Hasil penelitian pada tabel 6 didapatkan bahwa sebagian besar remaja putri memiliki motivasi tinggi. Adapun faktor yang mempengaruhi motivasi remaja adalah umur, urutan anak, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua dan informasi yang didapatkan.

Sesuai pada tabel 1 yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja putri berada pada kelompok usia enam belas sampai delapan belas tahun. Dalam batasan umur tersebut merupakan masa remaja, dimana secara psikologis masa remaja adalah masa dimana individu berintegrasi denga masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak (Hurlock, 2009). Pada usia remaja biasanya sikap remaja lebih condong pada perasaan kebersamaan, dan persatuan antara teman-teman lainnya sehingga motivasi ekstrinsik lebih mendominasi. Dengan bertambahnya umur maka lebih banyak informasi yang didapat serta pengalamannya juga lebih banyak dan diharapkan semakin banyak pengetahuan yang didapatkan seseorang, tapi pada kenyataannya tidak semua orang yang berumur memiliki pengetahuan yang luas dibandingkan dengan yang berumur relatif muda, karena selain dipengaruhi oleh umur, motivasi seseorang juga dipengaruhi oleh faktor urutan anak pada keluarga.

Urutan anak merupakan tingkatan dimana seorang anak tersebut bisa dikatan sebagai anak tunggal atau jumlah saudarah yang dimilikinya (Hermanto, 2009). Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa sebagian besar remaja putri  merupakan anak  ke satu sampai tiga. Urutan anak dapat dikatakan sebagai jumlah saudara yang berada dalam satu lingkup keluarga. Faktor ini mempunyai pengaruh karena jumlah saudara terlebih saudara perempuan berpotensi untuk memberikan pengajaran, pengalaman dan motivasi dalam permasalahan yag dihadapi walaupun tidak semuanya dapat menjadi acuan.

Hasil penelitian pada tabel 3 menunjukkan hampir sebagian orang tua remaja putri di SMK NU Kabupaten Lamongan berpendidikan SMP. Pendidikan SMP berada pada kategori tingkat pendidikan menengah sehingga orang tua sudah mempunyai pengetahuan yang dirasa cukup dan suatu informasi yang baik apabila dipelajari secara terus menerus akan membantu seseorang menemukan suatu manfaat dan motivasi dari informasi itu khususnya tentang motivasi tentang keberhasilan perawatan kesehatan reproduksi. Menurut Soekidjo Notoatmodjo (2007), pendidikan merupakan segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Seseorang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi akan lebih luas pandangannya dan lebih mudah menerima ide-ide dan tata cara kehidupan termasuk mengenai motivasi tentang perawatan kesehatan reproduksi. Demikian sebaliknya seseorang dengan tingkat pendidikan rendah maka seseorang itu akan sulit menerima informasi.

Selain itu pekerjaan juga merupakan faktor yang tak kalah penting, dimana pekerjaan dibutuhkan keluarga dalam rangka memenuhi fungsi ekonomi dalam keluarga, yakni memenuhi kebutuhan keluarga seperti makanan, pakaian, dan perumahan, juga sebagai sumber keuangan (Wahid Iqbal Mubarok, 2007). Hasil penelitian pada tabel 4 menunjukkan hampir sebagian orang tua remaja putri di SMK NU Kabupaten Lamongan bekerja sebagai tani. Orang tua disibukkan dengan urusan pekerjaan yang telah menjadi aktifitas sehari-hari yang dapat menyita hampir semua waktunya. Selain itu anak tidak berada dalam pengawasan orang tua selam 24 jam, dalam artian anak juga harus beraktifitas dalam kelompok bermainnya, sehingga orang tua kurang optimal dalam memberikan latihan perawatan kesehatan reproduksi kepada anak. Hal ini tentu berdampak pada ketidakmampuan anak dalam perawatan kesehatan reproduksi.

Informasi adalah sebuah berita yang didapatkan oleh seseorang baik itu melalui media atau secara langsung (Wilujeng, 2007). Berdasarkan tabel 5 bahwa hampir sebagian remaja putri mendapatkan informasi dari petugas kesehatan. Informasi yang diperoleh juga dipengaruhi dari mana informasi itu didapat. Informasi yang adekuat megenai perawatan kesehatan reproduksi lebih megena dari petugas kesehatan dari pada khalayak umum. Hal ini sesuai dengan lingkup bidangnya masing-masing sehingga responden lebih termotivasi karena penguatan terhadap orang yang lebih berpengalaman dan profesional semakin berpengaruh sehingga dapat teraplikasikan dalam kehidupan nyata.

Motivasi menunjukkan pada proses penggerak termasuk situasi yang terdorong, yang timbul dari dalam diri individu, tingkah laku yang ditimbulkan oleh situasi tersebut san tujuannya atau akhir dari pada gerakan atau perbuatan (Hafizurrachman, 2009). Motivasi merupakan dorongan yang sangat diperlukan dalam perawatan kesehatan reproduksi baik itu motivasi dari dalam diri sendiri atau motivasi dari orang lain atau lingkungan.

  1. 2.     Perilaku Perawatan Kesehatan Reproduksi di SMK NU Kabupaten Lamongan.

Hasil penelitian pada tabel 7 didapatkan bahwa sebagian besar remaja putri berperilaku baik dalam perawatan kesehatan reproduksi. Faktor yang mempengaruhi perilaku antara umur dan  informasi.

Menurut Hurlock, (2009). Psikologis masa remaja adalah masa dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang-orang yang lebih tua melainkan berada pada tingkatan yang sama, sekurang-kurangnya dalam masalah hak. Berdasarkan tabel 1 bahwa sebagian besar remaja putri berada pada kelompok usia enam belas sampai delapan belas tahun. Pada rentang usia tersebut telah masuk pada usia remaja madya. Tolak ukur usia ini sangat rentang terhadap segala aspek yang masuk ataupun keluar melalui apa yang dilihat dan dialami karena pada dasarnya pada masa ini remaja selalu ingin tau. Dengan betambahnya umur maka remaja biasa menentuka perilaku yang baik dalam hal merawat kesehatan reproduksi, agar terhindar dari bahaya-bahaya apabila tidak merawat kesehatan reproduksi dengan benar.

Berdasarkan tabel 5 bahwa hampir sebagian remaja putri mendapatkan informasi dari petugas kesehatan. Menurut Wilujeng, (2007). Informasi adalah sebuah berita yang didapatkan oleh seseorang baik itu melalui media atau secara langsung. Informasi yang diperoleh juga dipengaruhi dari mana informasi itu didapatkan, informasi yang adekuat mengenai perawatan kesehatan reproduksi lebih mengena dari petugas kesehatan dari pada khalayak umum. Hal ini sesuai dengan bidangnya sehingga remaja putri lebih  temotivasi untuk berperilaku baik dalam perawatan kesehatan reproduksi.

  1. 3.     Hubungan Antara Motivasi dengan Perilaku dalam Perawatan Kesehatan Reproduksi.

 

Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa ada hubungan antara motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi. Adapun faktor yang mempengaruhi perilaku Remaja putri dalam perawatan kesehatan reproduksi adalah: Pendidikan, motivasi.

Menurut Soekidjo Notoatmodjo, (2007). Pendidikan merupakan segala upaya yang dapat direncanakan untuk memengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka dapat melakukan apa yang diharapkan oleh pendidik. Dengan pendidikan dan pengetahuan yang tinggi remaja akan mengetahui perrilaku yang baik dalam perawatan kesehatan reproduk.

Menurut Soekidjo Notoatmodjo, (2007). Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang menyebabkan orang itu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai suatu tujuan. Dengan adanya motivasi baik dari dalam diri remaja putri maka dengan sendirinya remaja putri iku akan tergerak berperilaku baik dalam perawatan kesehatan reproduksi. Pengetahuan dan peran keluarga dan petugas kesehatan juga mepakan faktor yang mempengaruhi motivasi remaja putri dalam perilaku perawatan kesehatan reproduksi. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu yang diperoleh melalui proses belajar dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan, terhadap suatu obyek tertentu baik dari media televisi, radio, majalah. Makin tinggi pengetahuan seseorang makin tinggi pula motivasi yang didapatkan sehingga tebentuklah perilaku yang baik dalam perawatan kesehatan reproduksi.

Peran keluaga sangat penting dalam memberikan dorongan kepada anggota keluarganya dalam menentukan motif, sikap dan minat dalam menentukan sesuatu. Demikian juga dengan peran petugas kesehatan dalam memberikan informasi yang akan mempengaruhi motivasi seseorang. Semakin banyak informasi yang diberikan petugas kesehatan, maka motivasi seseorang makin tinggi dan semakin baik juga perilaku yang akan dilakukan remaja dalam perawatan kesehatan reproduksi.

KESIMPULAN

 

  1. Sebagian besar motivasi remaja putri tinggi dalam perawatan kesehatan reproduksi.
  2. Sebagian besar perilaku remaja putri baik dalam perawatan kesehatan reproduksi.
  3. Ada hubungan antara motivasi dengan perilaku remaja putri dalam perawatan kesehatan reprodukasi.

SARAN

Sebagai tindak lanjut hasil penelitian, maka diberikan saran sebagai berikut:

  1. Akademis

Pada program pembelajaran mata kuliah khususnya mengenai kesehatan reproduksi, hendaknya menganjurkan kepada anak didiknya untuk lebih memperhatikan masalah kesehatan reproduksi.

  1. Praktis

1)             Bagi Petugas Kesehatan

Hendaknya petugas kesehatan ikut berpartisipasi aktif dalam memberikan informasi ataun penyuluhan tentang akibat apabila tidak melakukan perawatan kesehatan reproduksi dengan baik dan benar guna untuk mencega terjadinya penyakit yang berbahaya.

2)             Bagi Profesi Keperawatan

Hendaknya  bagi profesi keperawatan untuk meningkatkan mutu dan kualitas kesehatan dengan melakukan penyuluhan kesehatan reproduksi.

3)             Bagi Peneliti Berikutnya

Agar peneliti berikutnya melakukan penelitian lebih lanjut dengan memperbanyak responden dan menambah wawasan lebih luas tentang perawatan kesehatan reproduksi pada remaja putri.

DAFTAR PUSTAKA

 

Dep Kes, (2010). Kesehatan Remaja: Problem dan Soluysinya. Jakarta: Selemba Medika.

Donna L. Wong, (2008). Pedoman Klinis Keperawatan Pedriatik Edisi 4.Jakarta: EGC

Elistyawaty, (2006). Cara Pencegahan Keputihan http: //www.wrodpress.com Diakses 20 Desember 2011.

Hafizurrachman, (2009). Manajemen Pendidikan dan Kesehatan. Jakarta: Sagung Seto.

Hermanto, (2007), Teori Keluarga http: //www. wropress. Com Diakses 01 juni 2012

Hurlock, Elizabeth, (2009). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Gelora Aksara Pratama: Erlangga.

Soekidjo Notoatmodjo, (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: PT Reneka Cipta.

Wahid Iqbal Mubarok, (2007). Sebuah Pengantar Proses Belajar mengajar Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Wilujeng, (2007). Memahami Informasi http: //www.wordpress.com Diakses 17 Juni 2012.

Iklan

2 comments on “ARTIKEL & JURNAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s